Jumat, 21 April 2017

Bumi dan Segala Parasitnya


Artikel ini disuarakan oleh anak ke dua saya, saat ini masih duduk dibangku SMP. Rifqi, namanya dan sekarang ini kelas XI SMPN 14 Makassar, ia turut menyuarakan Hari Bumi sekaligus mencurahkan keprihatinannya atas bencana yang datang dan pergi bertubi-tubi melanda planet bumi. Setiap terjadi bencana, selalu manusia sebagai korbannya. muncul pertanyaan siapa aktor dibalik bencana bumi ini?

Inilah hasil aspirasi pemikiran anak seusia Rifqi (14) tentang kehidupan satu-satunya planet yang berpenghuni. Hari Bumi kita peringati setiap tahunnya pada tanggal 22 April usai perayaan akbar Hari Kartini 21 April. Merupakan salah satu cara kita mensyukuri karunia Alloh SWT dengan segala nikmatnya, bukan hanya Hari Kartini saja orang antusias menyemarakkan keberanian pendobrak emansiapsi wanita, benar adanya emansipasi dimulai dari Kartini. Sudah seharusnya antusiasme itu ditunjukkan makhluk hidup beserta isinya, bahwa tanpa adanya planet bumi tempat makhluk hidup bernaung, mustahil akan adanya kehidupan termasuk Ibu Kartini.

Bumi merupakan sebuah karunia Tuhan Yang Maha Besar untuk kita para manusia-manusia penikmat planet ini. Akan tetapi, manusia terus menyakiti dan melukainya, sehingga manusia dapat dikatakan sebagai virus bagi planet ini. Semakin meningkatnya penduduk alias virus ini membuat bumi semakin terpuruk disebabkan simbiosis parasit ini.

Pemanasan global dan bencana alam  merupakan cara bumi sebagai planet tempat hidup bagi parasit ini untuk mengurangi keganasan penyakitnya. Sebagai parasit di bumi ini, alangkah baiknya kita merubah sikap dan pola hidup, untuk mengubah simbiosis parasit ini ke simbiosis mutualisme seperti yang dilakukan Bakteri E. Coli dalam usus manusia. Bakteri E. Coli atau Escherichia Coli selain dapat merugikan karena dapat mengganggu proses pencernaan pada manusia, juga dapat menguntungkan bagi manusia karena bakteri ini berfungsi sebagai pengurai sisi-sisa makanan yang tidak terserap secara baik terjadi dalam usus besar.

Bumi dapat dianggap sebagai sebuah tubuh yang terjangkiti berbagai penyakit komplikasi. pembakaran hutan itu sama saja seperti manusia terjangkit penyakit kulit menyebabkan tubuh terasa panas dan menyakitkan, kemacetan sama saja seperti pembuluh darah yang tersumbat akibat terjadinya penumpukan lemak, sehingga terjadi hambatan dalam pembuluh darah. Kurang lebih seperti itulah apa yang dirasakan bumi.

Bencana alam belakangan sering melanda bumi hingga membunuh korban jiwa tak lepas dari ulah tangan manusia sendiri. Sebagaimana yang dituliskan  Firman Allah QS. Ar-Rum: 41 “Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut akibat ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”

Makassar, 22 April 2017


Jumat, 02 Desember 2016

Selain Pohon ‘Pahlawan Oksigen’ Itu Plankton


sumber gambar: www.reference.com

Kondisi oksigen di muka bumi akhir-akhir ini makin menepi, akibat pembangunan berkelanjutan disegala bidang. Selain oksigen, lahan tempat tumbuh kembangnya pepohonan tidak lagi dapat kita rasakan kesegarannya.

Bukan hanya lahan, laut sudah banyak mengalami kedangkalan, akibat reklamasi pantai demi memenuhi hasrat manusiawi tanpa berfikir panjang justru akan merugikan manusia itu sendiri. Bahkan lautan tidak luput sebagai tempat sampah raksasa sisa-sisa makan dan minum manusia. Perilaku tersebutlah yang membuat makluk hidup lain mulai kehabisan oksigen tanpa timbal.
Belakangan pohon yang kita gadang-gadang penyumbang oksigen terbesar untuk bumi. Pada kenyataannya pohon hanya bisa menyumbang sekitar 20% oksigen bagi bumi, itupun sudah mulai mengkhawatirkan. Pohon hanya difungsikan sebagai penyaring karbon dioksida dan penghasil oksigen. Walau demikian, rupanya pohon bukan penyumbang oksigen terbesar. Lalu siapa dong “pahlawan oksigen” itu?

Siapa penyumbang terbesar oksigen yang dimaksud? pahlawan oksigen itu adalah Plankton, khususnya Fitoplankton menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Kebanyakan makhluk hidup yang berada di laut, plankton merupakan salah satu makanan utama mereka. Plankton termasuk sejenis makhluk hidup terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya pun sangat kecil.

Planton menghasilkan gelembung-gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang. Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.

Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. DMSP akan terurai ke air dan menjadi zat dimethylsulfide (DMS), kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.

Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.

Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.

Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton terbebas dari gangguan sinar ultraviolet. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.

Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja.

Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun. Dengan kemampuannya berespisari menghasilkan gelembung-gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut, oksigen tersebut terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang.

Lalu bersyukurlah karena Tuhan telah menciptakan mereka untuk kehidupan yang lebih baik, sehingga sampai detik ini kita masih bisa menghirup udara dengan bebas untuk berbagi dengan makhluk lain.

Sumber: diolah pelbagai sumber.

Makassar, 2 Desember 2016

Jumat, 10 April 2015

Stop Global Warming

 
Pemanasan global atau global warming mungkin tidak asing lagi di telinga kita . Pemanasan global adalah proses peningkatan suhu rata-rata di bumi disebabkan karena menipisnya lapisan ozon. selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Salah satu gas rumah kaca itu adalah CFC (Chloro Fluoro Carbon) atau sering disebut Freon, CFC ini menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (Ultraviolet) mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi. UV (Ultraviolet) adalah sengatan sinar matahari secara langsung akibat menipisnya lapisan Ozon. Ozon adalah pelindung lapisan kulit bumi yang dapat meresap sebagian besar radiasi matahari. Dampak terjadinya pemanasan global berupa iklim yang mulai tidak stabil, peningkatan permukaan air  laut. Perubahan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi kehidupan di daerah pantai.

Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Dampak sosial dan politik

  
Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan seperti asma, alergi, penyakit jantung, paru-paru kronis, dan lain-lain.
  
Nah, ternyata kita juga berperan sangat penting memperburuk keadaan bumi akibat dari Pemanasan Global.
Mari kita cegah mulai dari diri kita sendiri, dan dari sekarang, untuk tidak membuat keadaan bumi menjadi lebih buruk



Cara mengurangi Pemanasan Global

Hemat pemakaian listrik. Gunakan Listrik seperlunya. Jangan buang-buang energi listrik  walaupun kita mempunyai uang untuk membayar tagihan listrik.
Kurangi pemakaian gas CFC yang terdapat pada hair spray, AC , serta peralatan lainnya. 
Tanam pohon-pohon atau tanaman di sekeliling kita.
Kurangi pemakaian kendaraan bermotor.

Demikian mengenai Global Warming (Pemanasan Global), semoga menjadi perhatian kita semua, bahwa dunia ini adalah milik kita semua yang merupakan pemberian Yang Maha Kuasa yang perlu kita jaga dan kita rawat. Tetapi juga ketahuilah bahwa dunia ini bukan hanya milik kita, melainkan milik anak cucu, warisilah mereka dengan keindahan dunia dan jangan menjadi “pelopor penghancur dunia”. 

Semoga dunia ini tetap aman sejahtera hingga akhir nanti, Amin
    
    STOP GLOBAL WARMING… STOP !!!